Kolaborasi FISIP UNDIP dan National University of Singapore Bahas Masa Depan Jurnalisme di Era Automasi

Semarang, 7 Juli 2026 — Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, kembali melanjutkan rangkaian International Short Course 2026 bertema “Automation and Communication: AI, Creativity, and Media Work.” Pada sesi ini, kegiatan menghadirkan dua pembicara, yaitu Dr. Sunarto dari Universitas Diponegoro dan Shangyuan Wu, PhD dari National University of Singapore, dengan topik besar “Journalism in the Automation Age: Human-Machine Relations, Newsroom Transformation, and the Future of Media Work.”

Sesi ini dipandu oleh Keiza Aqilah, Mahasiswi Ilmu Komunikasi, sebagai master of ceremony, dan dimoderatori oleh Agne Yasa, M.A., Dosen Ilmu Komunikasi. Dalam pengantar sesi, moderator menekankan bahwa automasi dan artificial intelligence semakin membentuk bagaimana berita diproduksi, didistribusikan, diverifikasi, dan dikonsumsi. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi rutinitas jurnalistik, tetapi juga pengambilan keputusan editorial, organisasi ruang redaksi, otoritas profesional, serta relasi antara manusia dan mesin dalam kerja media.

Dalam pemaparan pertama, Dr. Sunarto membawakan materi berjudul “Hybrid Journalism: Indonesia’s Conventional Media Strategy in the Digital Era.” Melalui studi tentang media konvensional di Indonesia, khususnya kasus Harian Kompas, Dr. Sunarto menjelaskan bahwa sistem media hibrida menjadi salah satu strategi adaptasi media konvensional dalam menghadapi disrupsi digital. Strategi ini mencakup konvergensi antara platform cetak dan digital, praktik jurnalisme hibrida, serta pengembangan model bisnis hibrida agar media tetap relevan dan berkelanjutan di era digital.

Dr. Sunarto juga menunjukkan bahwa adaptasi teknologi merupakan keharusan bagi media di era digital. Dalam konteks ini, media konvensional tidak hanya berpindah dari cetak ke digital, tetapi juga perlu menata kembali proses organisasi, praktik editorial, hubungan dengan pembaca, serta cara memanfaatkan teknologi untuk mendukung kerja jurnalistik tanpa meninggalkan prinsip kualitas jurnalistik.

Pada sesi kedua, Shangyuan Wu, PhD dari National University of Singapore menyampaikan materi berjudul “Journalists as Individual Users of Artificial Intelligence: Exploring their Practices, Perceptions, and Literacies Within and Without the Newsroom.” Ia menjelaskan bahwa penggunaan AI di ruang redaksi tidak selalu berlangsung melalui kebijakan formal organisasi. Banyak jurnalis telah menggunakan AI secara personal dalam berbagai tahap produksi berita, baik dengan maupun tanpa arahan langsung dari newsroom.

Dr. Shan memaparkan bahwa jurnalis menggunakan AI untuk membantu proses news gathering, penulisan, penyuntingan, promosi berita, hingga penyusunan headline dan social media blurbs. Namun, ia juga menekankan pentingnya verifikasi, penyuntingan, dan sikap kritis terhadap keluaran AI agar nilai-nilai inti jurnalisme seperti akurasi, kebenaran, transparansi, keseimbangan, dan integritas tetap terjaga.

Selain itu, Dr. Shan menyoroti pentingnya literasi digital bagi jurnalis kontemporer, termasuk news literacy, data literacy, algorithmic literacy, dan AI literacy. Literasi ini diperlukan agar jurnalis tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami keterbatasan, bias, dan risiko yang melekat dalam penggunaan AI dan algoritma dalam praktik jurnalistik.

Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan dari peserta. Isu yang dibahas mencakup tren “Gen Z-style journalism”, konsumsi berita melalui TikTok, penggunaan AI-hook dan AI-lead dalam berita, kebijakan pelabelan konten AI di media arus utama, keandalan deteksi tulisan AI, masa depan news anchor di era AI, hingga bagaimana sekolah jurnalisme perlu menyesuaikan kurikulumnya ketika AI semakin berkembang.

Setelah sesi presentasi dan tanya jawab, kegiatan dilanjutkan dengan Group Discussion Session di breakout room. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk bertukar gagasan, merefleksikan materi yang telah disampaikan, serta menghubungkan isu jurnalisme, AI, dan transformasi newsroom dengan konteks akademik, profesional, dan budaya masing-masing.

Melalui sesi ini, International Short Course 2026 memberikan ruang bagi peserta untuk memahami transformasi jurnalisme di era automasi secara lebih kritis. Sesi bersama Dr. Sunarto dan Dr. Shangyuan Wu menunjukkan bahwa masa depan jurnalisme tidak hanya ditentukan oleh kehadiran teknologi, tetapi juga oleh kemampuan institusi media, jurnalis, dan masyarakat untuk menjaga kualitas informasi, etika jurnalistik, serta literasi digital dalam ekosistem media yang terus berubah.

International Short Course 2026 terus menjadi ruang pembelajaran lintas negara dan lintas disiplin untuk membahas transformasi komunikasi, kreativitas, dan kerja media di era automasi dan artificial intelligence. (WNIS)