sosmedPengguna sosial media terutama facebook berpeluang besar menjadi Haters (Pengujar Kebencian) adalah orang yang tidak segan menyerang orang yang dibencinya dengan kata kata kotor, melecehkan hingga menghina.

Fenomena tersebut merupakan dampak negatif konsumsi sosial media dimana semakin sering mengakses social media, Fenomena haters tak terhindarkan seiring dengan perkembangan teknologi. Hal ini memberi dampak keresahan sosial berskala luas.

Temuan Riset tentang Bahaya Sosial Media tersebut dipaparkan oleh Angga Pradipta, Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi Fisip Undip saat mempertahankan skripsi hasil riset dengan judul Fenomena Haters di Media Sosial. Angga memaparkan hasil riset tersebut dihadapan penguji ahli yaitu Nuriyatul Lailiyah, Primada Qurrota Ayyun dan Agus Naryoso, Senin (20/6)

Lebih lanjut Angga memaparkan berdasarkan data statistik Pengguna Internet dan Mobile Indonesia, pada tahun 2014 bahwa lima belas persen dari total penduduk Indonesia adalah pengguna internet sekaligus memiliki akun media sosial.  “Dari 130 responden yang pernah diwawancarai tentang trend perilaku penggunaan sosial media di facebook dan instagram mayoritas pernah melakukan ujaran kebencian (haters). Perilaku haters tersebut nampak dari 90 % diantaranya memposting kalimat menuduh atau menjudge setidaknya 1-2 kali dalam sehari, memposting kalimat pedas dan penyerangan kompetensi sebanyak 64 % yang dilakukan sebanyak 1-2 kali dalam sehari, memposting kalimat menghina fisik 90 % sebanyak 1-2 kali dalam sehari, memposting gambar atau meme untuk menyindir orang lain 83 % 1-2 kali dalam sehari, memposting kalimat yang mengandung ancaman 87 % sebanyak 1-2 kali dalam sehari.

Angga juga memberikan penekanan bahwa realitas tersebut  bagian dari efek media sosial. “lebih mengerikan haters juga tak segan menyerang, mengumpat, melecehkan hingga menghina orang” tandasnya

Gadis kelahiran Semarang, 19 Oktober 1993 ini awalnya merasa penasaran dengan kesamaan perilaku haters dalam dunia maya maupun di kehidupan nyata. Haters memiliki perilaku di media sosial menggunakan komunikasi agresif, yang terlihat melalui perilaku penyerangan karakter, penyerangan kompetensi, menghina atau mengejek, mengumbar tanda nonverbal yang ditunjukan melalui gambar, symbol atau foto dan kalimat mengandung ancaman. “Kebanyakan haters memperolok public figure dengan memberikan komentar dalam akun instagram para selebritas tersebut” jelasnya lebih lanjut.

Dari temuan mahasiswi asli kota Semarang ini fenomena perilaku haters yang ada di media sosial memiliki kesaman saat berkomunikasi di kehidupan nyata yakni komunikasi agresif verbal, karena bagi mereka perilaku tersebut tidaklah menyimpang atau salah, mereka cenderung percaya diri mengkritik karena tidak ada batasan untuk berkomunikasi di ruang sosial.

Menurut penguji Nuriyatul Lailiyah masyarakat kita sekarang sudah masuk dalam kategori social media addiction society, masyarakat sudah kecanduan bahkan mabuk sosial media. “Fenomena seperti ini sangat membahayakan bila pengguna sosial media yang mayoritas anak muda ini tidak diawasi dan tidak terkontrol” jelasnya.  Elin demikian panggilan akrabnya menegaskan keluarga dan sekolah harus melakukan sosial media literacy agar pengguna dapat menggunakan sosial media secara baik. “tren sosial media yang cenderung melahirkan generasi muda yang antisosial seharusnya bisa diatasi dengan memberikan ruang bagi anak muda atau remaja lebih banyak berinteraksi sosial.

“Temuan riset tersebut luar biasa media sosial dijadikan sebagai ajang untuk mengungkapkan ide dan kritik yang cenderung kebablasan” tambahnya. Alasannya haters berani mengungkapkan pendapat dengan bentuk kalimat agresif karena mereka memandang agresi verbal seperti cacian makian adalah bentuk dari kritik dan opini dari isu atau public figure yang harus di kritik karena dianggap tidak sesuai dengan kaidah sosial. Hal ini persoalan serius dan berpotensi menimbulkan konflik yang tinggi dan menciptakan karakter pribadi yang tidak empatik.

“Pemerintah perlu memperkuat regulasi yang mengatur penggunaan media sosial dan memperketat UU yang menyoal perilaku haters, serta perlunya sosialisasi dampak negatif sosial media sejak dini baik secara formal atau informal” tandasnya

CP Angga Pradipta : 085642881802

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *