FISIP UNDIP Gandeng University of Nottingham Malaysia dalam Penelitian Performativity Sinden Perempuan

Semarang, 24 Agustus 2026 — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro memperkuat kolaborasi riset internasional melalui pelaksanaan penelitian bertajuk “The Social Arena Landscape of Indonesian Women Traditional Singer Performativity”. Penelitian ini melibatkan peneliti dari Departemen Ilmu Komunikasi FISIP UNDIP dan Dr. Dag Yngvesson, Assistant Professor dari School of Humanities, University of Nottingham Malaysia.

Penelitian yang merupakan bagian dari skema Penelitian Publikasi Internasional Bereputasi (PPIB) FISIP UNDIP Tahun 2026 ini berfokus pada bagaimana perempuan yang berprofesi sebagai sinden menempati, mengalami, dan menegosiasikan posisi mereka dalam arena sosial dan budaya seni pertunjukan tradisional. Dokumen resmi FISIP UNDIP mencatat penelitian tersebut dilaksanakan di Surakarta dan Yogyakarta pada 21-22 Agustus 2026, dengan Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, S.Sos., M.A., M.Si. sebagai ketua penelitian.

Kehadiran Dr. Dag Yngvesson sebagai akademisi dari University of Nottingham Malaysia mendapat sambutan hangat dari FISIP UNDIP. Kolaborasi tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat jejaring akademik internasional sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan antara akademisi Indonesia dan mitra internasional.

Dekan FISIP UNDIP, Prof. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin., menyampaikan apresiasi atas kehadiran Dr. Dag Yngvesson dan menyambut baik kolaborasi penelitian yang dilakukan bersama para akademisi FISIP UNDIP.

“FISIP UNDIP sangat menyambut hangat kedatangan Dr. Dag Yngvesson, Assistant Professor dari School of Humanities, University of Nottingham Malaysia. Kehadiran beliau merupakan kesempatan yang sangat baik untuk memperkuat kolaborasi akademik internasional, khususnya dalam bidang penelitian yang berkaitan dengan komunikasi, budaya, gender, dan seni pertunjukan,” ujar Prof. Dr. Drs. Teguh Yuwono, M.Pol.Admin.

Lebih lanjut, Dekan FISIP UNDIP menegaskan bahwa fakultas memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan penelitian tersebut. Menurutnya, kegiatan akademik yang memiliki skala internasional tidak hanya berkontribusi terhadap penguatan reputasi institusi, tetapi juga perlu memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Kegiatan ini didukung penuh oleh FISIP UNDIP. Kegiatan yang berskala internasional seperti ini terlebih sangat berdampak positif bagi masyarakat kita. Hal ini juga selaras dengan upaya dan kegiatan menuju World Class University, di mana penguatan kolaborasi internasional, riset berkualitas, serta kontribusi nyata kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun institusi pendidikan tinggi yang berkelas dunia,” jelasnya.

Menurut Prof. Teguh, penelitian yang mengangkat praktik budaya lokal seperti sinden menunjukkan bahwa kekayaan budaya Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi pengetahuan yang memiliki relevansi global. Kolaborasi dengan akademisi internasional juga diharapkan dapat memperluas perspektif penelitian sekaligus meningkatkan kualitas dan daya jangkau hasil riset FISIP UNDIP.

Mengamati Sinden dalam Ruang Pertunjukan

Sebagai bagian dari kegiatan penelitian, tim melakukan observasi terhadap pertunjukan wayang di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Semarang, bersama dalang Ki Sigid Ariyanto. Observasi dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana sinden hadir dan berinteraksi dalam ruang pertunjukan wayang serta bagaimana posisi perempuan dibentuk melalui praktik pertunjukan tersebut.

Penelitian kemudian dilanjutkan melalui kajian terhadap delapan sinden di Semarang dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam. Tim juga melakukan penelitian di Yogyakarta dengan melibatkan enam sinden dari berbagai latar belakang.

Pengumpulan data tersebut memungkinkan tim penelitian untuk melihat pengalaman sinden secara lebih beragam, tidak hanya sebagai pelaku seni pertunjukan, tetapi juga sebagai perempuan yang berhadapan dengan norma budaya, relasi sosial, ekspektasi terhadap tubuh dan suara perempuan, serta perubahan dalam praktik seni tradisional.

“Penelitian ini berupaya melihat sinden bukan hanya sebagai bagian dari pertunjukan, tetapi sebagai subjek yang memiliki pengalaman, suara, dan agensi dalam ruang sosial dan budaya tempat mereka berada,” ungkap Dr. Hapsari Dwiningtyas Sulistyani, S.Sos., M.A., M.Si.

Kehadiran Dr. Dag Yngvesson memberikan perspektif internasional dalam proses penelitian. Dr. Yngvesson memiliki latar belakang kajian Cultural Studies dan Moving Image Studies serta pengalaman lebih dari 15 tahun sebagai filmmaker. Bidang penelitiannya mencakup sinema Asia Tenggara, media, kajian gender, kajian pascakolonial, etnografi, dan antropologi visual. Ia juga memiliki kepakaran dalam hubungan antara sinema dengan seni pertunjukan.

“Penelitian mengenai perempuan dalam praktik budaya tradisional penting dilakukan karena ruang budaya tidak pernah terlepas dari persoalan gender dan relasi kuasa. Melalui pengalaman para sinden, kita dapat melihat bagaimana perempuan menjalankan peran sekaligus menegosiasikan posisi mereka dalam ruang sosial dan budaya,” jelas Dr. Dag Yngvesson.

Perspektif tersebut menjadi relevan dalam penelitian mengenai sinden perempuan karena penelitian tidak hanya ditempatkan sebagai kajian terhadap kesenian tradisional Jawa, tetapi juga sebagai bagian dari pembacaan yang lebih luas mengenai gender, performativitas, budaya, media, dan perubahan sosial di Asia Tenggara.

“Keterlibatan dalam penelitian ini memberikan kesempatan untuk melihat praktik seni pertunjukan Indonesia melalui perspektif komparatif dan lintas disiplin. Sinden merupakan subjek yang menarik untuk dikaji karena mereka berada pada pertemuan antara seni pertunjukan, budaya, gender, dan kehidupan sosial.”

Dari Praktik Budaya Lokal menuju Riset Internasional

Penelitian ini memperlihatkan bagaimana praktik budaya lokal dapat menjadi objek penelitian yang memiliki relevansi dalam diskursus akademik internasional. Pengalaman para sinden di Semarang dan Yogyakarta menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana perempuan menjalankan peran, membangun identitas, dan melakukan negosiasi dalam ruang seni pertunjukan tradisional.

Bagi FISIP UNDIP, keterlibatan peneliti dari University of Nottingham Malaysia juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring kolaborasi akademik internasional. Penelitian ini diharapkan menghasilkan publikasi ilmiah internasional sekaligus membuka peluang pengembangan penelitian bersama dalam bidang komunikasi, budaya, gender, media, dan seni pertunjukan.

Skema PPIB FISIP UNDIP Tahun 2026 sendiri menargetkan luaran berupa artikel pada jurnal internasional terindeks Scopus dan/atau artikel prosiding internasional terindeks Scopus.

Melalui penelitian ini, FISIP UNDIP tidak hanya mendokumentasikan dan mengkaji praktik budaya lokal, tetapi juga mendorong pengembangan pengetahuan tentang perempuan dan budaya Indonesia untuk dibawa ke dalam percakapan akademik di tingkat internasional. (Naomi Putri Bahari Simeon).