Dorong Tiga Potensi Wisata Berbasis Kearifan Lokal, Mahasiswa KKNT IDBU 53 Undip Kembangkan Branding Kampung Wisata Klurahan guna Mendukung SDGs 11 dan Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan di Kelurahan Sukoharjo

SUKOHARJO, 13 Agustus 2026 — “Kami berharap wisata di Kampung Klurahan bisa kembali eksis, karena sangat membantu bagi perkembangan perekonomian warga,” ujar Haryono selaku pengelola Guyangan Kebo.

Mahasiswa KKN-T IDBU 53 Universitas Diponegoro (UNDIP) turut mengambil peran dalam memperkenalkan potensi wisata yang dimiliki Kampung Klurahan, Sukoharjo melalui program pengembangan branding wisata berbasis kearifan lokal. Kegiatan ini diwujudkan melalui tiga strategi utama, yaitu pembuatan buku branding wisata, simulasi wisata edukasi burung hantu (Tyto alba), serta video pengenalan tiga potensi wisata Kampung Klurahan (Kp.Klurahan). Salah satu rangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan pada 1 Agustus 2026 melalui simulasi wisata edukasi Tyto alba yang menyasar pada anak anak di Kp.Klurahan. Program ini bertujuan untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan potensi wisata lokal agar semakin dikenal, memiliki identitas yang kuat, serta dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata yang berkelanjutan bagi masyarakat setempat.

Destinasi Guyangan Kebo sebagai ikon yang masih dimanfaatkan sampai saat ini
Makam Kyai Langsur sebagai tempat untuk masyarakat berziarah mengirim doa
 

Buku Branding dan Pemasaran serta akun instagram @lelana_sukoharjo sebagai produk branding wisata Kelurahan Sukoharjo
Konservasi Tyto alba sebagai sahabat petani di P4S Harmoni Sukoharjo

Kp.Klurahan, Sukoharjo memiliki tiga potensi wisata yang khas, yaitu Guyangan Kebo yang merupakan objek wisata sore memandikan kerbau di guyangan. Selain itu, terdapat P4S Harmoni sebagai tempat konservasi burung hantu jenis Tyto alba yang sangat membantu petani dalam mengendalikan hama Tikus, serta Makam Kyai Langsur yang merupakan makam keturunan Keraton Solo. Namun, ketiga potensi wisata tersebut belum dapat dikelola secara terpadu dan tidak memiliki media sosial khusus untuk mendukung promosi serta branding wisata. Guyangan Kebo kini tidak lagi berjalan karena kerbau yang menjadi ikon utama sudah tidak ada. P4S Harmoni masih belum memiliki pengelolaan wisata yang berkelanjutan, dan Makam Kyai Langsur yang belum banyak dikenal luas oleh masyarakat. Kondisi ini menjadi alasan penting bagi mahasiswa KKN-T IDBU 53 UNDIP untuk mengembangkan branding wisata dan paket wisata berbasis kearifan lokal.

Menindaklanjuti hal tersebut, Mahasiswa KKN-T IDBU 53 UNDIP menghadirkan beberapa strategi untuk memperkuat branding dan promosi wisata Kp.Klurahan, mulai dari pembuatan Buku Branding dan Pemasaran yang memuat identitas wisata, paket wisata, potensi UMKM khas Sukoharjo, serta strategi dalam pengembangan media sosial. Sebagai bentuk penerapan paket wisata yang telah dirancang, mahasiswa UNDIP melaksanakan program kerja simulasi paket wisata edukasi Tyto alba kepada anak anak yang menyenangkan dan interaktif. Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk mengenal Tyto alba sebagai sahabat petani dan mengikuti aktivitas mewarnai. Program ini tidak hanya menjadi sarana pengenalan potensi wisata edukasi, tetapi juga mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) 11 dan 8 tentang pengembangan wisata berbasis kearifan lokal serta peluang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.

Menurut Tuti, edukasi mengenai Tyto alba diharapkan memberikan wawasan yang lebih luas untuk menjaga dan mengenal keberadaan Tyto alba sebagai bagian dari ekosistem pertanian. “Harapannya anak-anak kecil tahu tentang manfaat, kegunaan, dan apa itu Tyto alba, sehingga ke depannya mereka, anak-anak bangsa, juga mengenal kalau burung hantu membantu para petani untuk menghasilkan panen yang lebih baik,” ujar Tuti pengelola P4S Harmoni (13/08).

Pelaksanaan program kerja Pengembangan Kampung Wisata Kelurahan Sukoharjo diharapkan mampu meningkatkan pengenalan terhadap potensi wisata setempat serta mendorong peningkatan kunjungan wisatawan yang berdampak pada perekonomian masyarakat. Sebagai langkah lanjutan, diharapkan paket wisata yang telah disusun dapat direalisasikan dan dijalankan di Kp.Klurahan Sukoharjo. Paket wisata disusun dengan alur harga, serta fasilitas kunjungan wisatawan satu hari  dan setengah hari di Kp.Klurahan. Implementasi paket wisata dapat menjadi awal bagi pengelola wisata dan masyarakat mengembangkan kegiatan wisata yang berkelanjutan.

Tidak sampai disitu, mahasiswa KKN UNDIP juga menyusun video branding wisata dan pembuatan media sosial instagram dengan username @lelana.sukoharjo sebagai salah satu langkah promosi wisata berkelanjutan. Harapannya melalui branding wisata berbasis kearifan lokal yang dilakukan melalui media sosial mampu memberikan informasi awal kepada masyarakat mengenai destinasi wisata yang ada 

Meningkatnya kunjungan wisatawan juga diharapkan dapat membuka peluang bagi masyarakat Kp.Klurahan untuk terlibat dalam kegiatan wisata dan memperoleh manfaat ekonomi dari keberadaan destinasi wisata di lingkungan mereka. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat diharapkan dapat menjaga keberlanjutan program sekaligus mendukung pencapaian SDGs. Upaya tersebut menjadi bagian dari semangat “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat” dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.